Pages

Jumat, 25 Juli 2014

Friday Throwback

  Ada kalanya dimana gue benar-benar tidak punya ide untuk menulis. Iya, gue tahu, gue memang tidak profesional seperti penulis-penulis handal lainnya, dimana menuliskan hal yang biasa jadi luar biasa. Tetapi sebagaimanapun, gue harus tetap mengisi blog gue yang berentri hanya 50 tulisan, 38 dipubliskasikan, dan 12 draft dalam waktu dua tahun.

   Dan draft tersebut banyak berisi cerita setengah, yang gue gak tahu mau lanjutin apa. Atau terkadang, entri (draft) tersebut gue buatnya malam-malam (serius, otak gue lancar banget menulis pada tengah malam. Dan itu menjadi alasan mengapa setengah dari blog ini gue publikasikan tengah malam atau subuh) dan beberapa tulisan-tulisan yang dibuat tengah malam tersebut tidak sempat self-edit atau penyentuhan terakhir dalam penulisan yang kemudian gue simpan sebagai draft. Rencananya sih mau edit paginya, tapi selalu saja rencana tersebut menjadi wacana. Hemmm....

  Dan, salah satu draft nya, entri ini.
Entri ini sebenarnya gue buat ketika gue kelas 7 (sekarang kelas 8) saat libur satu hari setelah outbond yang sedikit dan cukup melelahkan (Namun seru). Jadi, sekarang gue cuma menambahkan sedikit tulisan dan menghapus sedikit tulisan.
---
 Mungkin ultah gue sudah kelewat sangat jauh, tapi tidak ada salahnya kan kalau gue mem-post foto-foto masa kecil gue-ketika-masih-unyu-unyunya. 
Nah, di blog kali ini, gue akan mem-post foto-foto ketika gue masih gak ngerti apa-apa, masih alim-alimnya, ngiler dimana-mana, dll. HAHA.

So, what are you waiting for?
just Check it out→
Dari kecil gue sudah kayak Hippo, mangap gaje gitu.
NB: BUKTI KALAU GUE PUNYA RAMBUT PAS KECIL
P.S: N.B tersebut diberikan kepada seseorang yang menganggap dulu ketika
gue kecil tidak mempunyai rambut.
Keep Smile :3
Gue rasa bando itu masih ada deh ...
Dulu gue gak botak, percayalah, sungguh.
Gue gendutnya udah kayak Hippo.
Tapi sebagaimanapun, gendut ketika masih balita, menandakan gue itu sehat.
"Dulu pas kecil gue punya kembaran" gue beri tahu ke Nicole
"Namun meninggal" lanjut gue.
Dan, dia percaya.
Sejujurnya, gue gak punya kembaran, dan itu saudara gue yang lahir 3 hari sebelum gue lahir.
Dia masih hidup.
Ini gue dibaptis di Bonaventura.
Gue emang periang dari bayi. Atau gue abnormal?
"Ayo sini sama adek.."
Wat is dat alien things?! 

  Pasti reaksi kalian: "Gile gile gile... Maria unyu banget... ihhh... chubbyyy...." seperti nada fansgirling/fansboying (?) seperti biasanya... 
Gue tahu itu. 
Dan kalian melanjutkan.. "Tapi gak kayak sekarang"

Ya kan?
IYA?
Oh gitu... OKE FINE
Kita PUTUS! 


(Lho?)

Selasa, 01 Juli 2014

Hellaw July, Please Gimmie a Life

  'Hellaw July, please be nice :)' Puluhan foto selfie di Instagram dengan caption mainstream itu nge-gantung di dinding media sosial Instagram. Gue gak ngerti, kenapa mereka harus (ya,kayaknya harus banget) rutin selfie setiap bulan dengan caption yang hampir sama. Padahalkan July ga ngapa-ngapain. Yang gerak, hidup, makan,dll itu kan kita. Jadi apa hubungannya sebuah bulan-tak-berdosa dengan kehidupan manusia-yang-banyak-dosanya?

  Dan di dunia di super modern ini gue ngerasa lebih banyak orang yang tinggal di dunia maya daripada di dunia nyata. Ya kayak blog gini. Dunia maya. Ya...... 

Gitu.


  Sekarang. Iya sekarang. Gue gak tahu mau ngeblog apaan. Ini aja gue gak ngerti. Ya, belakangan ini rasa-pengen-nulis itu nyaris gak ada. Kalo dibuat berapa kehilangannya-rasa-pengen-nulis itu dari 10, maka gue akan bilang 8 dari 10 gue agak males dan gak ada ide mau nulis apaan. Padahal awal gue kelas 6, gue pernah janji sama diri sendiri gue harus bisa dan mampu membuat novel minimal satu saja di kelas 7. Sekaraang gue udah mau kelas 8, satupun draft novel ga pernah jadi. Yang gue lakukan hanyalah pengen baca novel fiksi yang bagus tanpa mencoba juga membuat novel fiksi yang bagus untuk dibaca orang lain. Menyedihkan. 
Dan ketika gue sedang belajar buat UAS kelas 7 waktu itu, gue berjanji akan mengeluarkan blog setiap hari. Fact: Liburan ini gue hanya mengeluarkan entri 'Combronatic'. Miris.
Kalau kata bang Radit,
"Tulisan itu datang dari kecemasan dan ketidakpastian" 
Maka, kecemasan gue itu adalah 'gue gak ada ide buat nulis' dan itu gue jadikan materi hari ini (loh kayak stand up comedy aja). Jadi gue gak ada ide buat nulis itu ditulis dan gak ada ide buat nulis jadi ada ide dan idenya itu gak ada ide buat nulis. Paham?

Liburan kemana?
Liburan ini gue gak kemana-mana. Ya palingan cuma waktu itu ke Purwokerto ketika tanggal 22 Juni silam dan nanti ke Cirebon tanggal 6 sampai 8 Juli mendatang. Itupun berdua karena ada acara gereja (Iya gue tahu gue itu sok rohani banget). Jadi, aku ora opo-opo. Rapopo.

Di rumah ngapain?
Bernafas, makan, tidur, novel time. Yang intinya sih itu saja. Tapi selain itu gue suka nge-doodle gagal (doodle itu kayak gambar-gambar gitu lah). Jadi, gue itu pengen nge doodle, tapi gue gak ada bakat sama sekali dalam menggambar. Tapi gue pengen banget gambar. Ya, jadinya doodle gagal deh. Expection dan Reality nya berbanding terbalik jatuh ke bawah.

Selain gambar, gue 'kan juga ada hobi dan melakukan hal ini saat liburan. Yaitu membaca novel. Maka, gue akan merekomendasikan novel bulan ini.
I'm so recommended with:

IF I STAY -Gayle Forman
Berkisah tentang seorang perempuan pemain cello, Mia yang jatuh cinta dengan lelaki punk, Adam. Banyak hal yang Mia inginkan dan mimpikan. Seperti, pemain cello profesional, pergi dengan Adam dan tinggal di New York, pergi kuliah di Juiliard, dan lain-lain. Tapi sedihnya, cita-cita itu hilang dalam hitungan detik. Ia dan keluarganya mengalami kecelakaan saat ingin ke rumah Gran dan Gramps mereka. Orangtua mereka meninggal di tempat. Ia sekarat dan ia berada di luar tubuhnya melihat diri sendiri terbaring dengan dikelilingi para medis dan pekerja sosial.
"Ini pilihanmu sayang, kau memilih hidup tanpa orangtua atau pergi meninggalkan kami semua" kata perawat itu.
Banyak dari keluarganya, pacarnya, dan sahabatnya -Kim- yang sangat menginginkan ia tetap hidup. Berbagai cara telah mereka semua lakukan agar ia tetap disini hidup. Dilema hidup ketika berada di ambang-ambang hidup atau mati sangat membuat para pembaca tertekan dan penasaran apa yang akan Mia lakukan, Hidup tanpa orangtua dan Teddy -adiknya- yang sangat dicintainya atau Mati meninggalkan pacar, sahabat, dan keluarga besar yang juga sangat dicintainya.
Alur cerita yang dibuat Gayle ini berupa Flashback dan alurnya nyaris seperti Iwan Setiawan di 9 Summers 10 Autumns. Dan ini quote-quote favorit gue:
"Mia, Mia, Mia.. Inilah dirimu yang aku suka. Kau memang berpakaian lebih seksi dan pirang. Tapi dirimu malam ini sama dengan dirimu yang membuatku jatuh cinta kemarin, sama dengan dirimu yang akan membuatku jatuh cinta besok. Aku suka kau bisa menjadi rapuh dan tangguh, pendiam dan liar." 
 "Setiap fiksi mempunyai dasar fakta"
"Meninggal itu mudah sekali. Hiduplah yang sulit"
"Bagaimanapun, kau menang. Dan bagaimanapun kau kalah. Mau bilang apa lagi? Cinta memang bikin susah" (Gue lebih suka quote Inggrisnya: What can I tell you? Love's a bitch)
"I'll let you go, If you Stay"
Ya, Gitu. Kerenlah. Oh iya, If I Stay ini meraih Best seller kedua di NY Times setelah The Fault In Our Stars, jadi bolehkah gue bilang kalau If I Stay ini itu The Fault in Our Stars yang kedua? Boleh ya.
Dan kabar baik selanjutnya, If I Stay akan muncul di bioskop pada 22 Agustus mendatang. Dengan Mia diperankan oleh Chloe Moretz! Hip Hip HORE! Semoga saja gak kayak TFIOS yang muncul di bioskop Indonesianya lebih lama daripada yang di beri tahu kepada seluruh dunia.

  Dan expection gue itu membaca banyak novel, dan realitynya gue membaca ulang TFIOS, hanya novel If I Stay yang dibaca sampai habis, membaca sebagian novel 'Orang Miskin Dilarang Sekolah' (Well, itu 400-an halaman, gue baru sampai halaman 200-an. Gue pembaca yang sangat lemot), membaca novel karya Tere-Liye di Gramed Matraman. Yap mirisnya cuma segitu yang gue baca. Sangat amat mirissssssss.
Dan di liburan ini, gue me-review beberapa buku di Goodreads.com , Add gue ya, Maria Michelle Angelica (Gue sign in pakai akun facebook).

  Selain membaca, gue juga hobi fotografi. Dan gue coba-coba berhadiah (?) mengikuti lomba fotografi yang diadakan kompas setiap minggunya. Ya, gue pemula, jadi gue rapopo kalau kalah. Yap, minggu ini gue kalah, tapi masih ada minggu depan. YEY. Dan yang gue senang banget itu, di foto gue jadi ada watermark 'Klinik Fotografi Kompas' dan itu sangat berharga bagi gue. Karena sebagaimanapun, watermark itu biasanya dimiliki oleh fotografer profesional dan menggunakan kata 'Fotografi' menjadi pekerjaan. Dan sebagaimanapun gue hanya perempuan berumur 13 tahun menggunakan kata 'fotografi' cuma untuk iseng dan hobi. Jadi gue disetarakan dengan fotografi profesional (?). Ya, walau emang sih semua pengirim itu dapat watermark itu sebagai penanda kita mengikuti lomba itu.. tapi tetep aja, rata-rata yang ikut itu sudah profesional. Tapi kalian tunggu aja, suatu saat pasti menang. Pasti. Oh iya ini kalau mau ada yang rating online atau mau melihat seberapa hancur atau seberapa keren (ga pernah ada yang muji hasil foto gue keren) hasil foto gue, http://kfk.kompas.com/user/view/565335-Maria-Michelle-Angelica

Jujur sebagaimanapun, gue masih pemula dalam segala hal. Menulis blog, fotografi,.... Lamanya gue jatuh cinta dengan kehidupan pada lensa buatan sampai saat ini sama dengan lamanya blog ini berdiri. Yap, baru 2 tahun. Maka, secara teoritis, gue baru dua tahun di dunia itu berdua dan gue masih dikatakan 'Junior'. Iya, sangat junior. So, don't judge my creation. But you may comment on it. I'm respectfully with your comment.

 ---
  Selain itu semua yang gue ceritakan sebejibun dan hampir memenuhi setengah stadium penulisan (?), gue juga menghabiskan liburan ini dengan teman-teman pergi ke mall. Eit eit eit, jangan judge dulu. Ke mall itu bukan seperti remaja zaman sekarang, ke fashion store, ambil baju sesuka hati mereka, pakai di fitting room terus foto, kirim ke instagram, balikin lagi baju-bajunya. 
GAK. 
Gue GAK begitu. Temen gue, IYA begitu. 

Bahkan gue bukan anak mall. Gue ke mall pasti tujuannya cuma tiga: 
1. Nonton bioskop
2. Ke Gramedia/toko Gunung Agung/ toko buku lainnya
3. Makan. 

itu doang. Ga lebih. Dan kemarin itu, gue sama teman-teman gue Nobar. Nonton TFIOS (The Fault in Our Stars) dan itu bagus. Lumayan. Lumayan bagus. Tapi ada sesuatu yang gue salah pahami ketika membaca novelnya dan diluruskan ketika nonton filmnya:

Lidewij, pelayan Van Houten adalah laki-laki (Padahal perempuan), dan ketika novelnya ngomog 'She' gue pikir itu ada pelayannya satu lagi yang perempuan yang bernama Scoot (sebenarnya Scoot itu minuman keras). LOL


  Ketika sampai di Starbucks, beberapa dari kami membeli minuman dan beberapa yang tidak. Catherine sibuk dengan Blackberrynya;
"Yah, Samin gak ikut" katanya dengan nada kecewa meratap Blackberry putihnya tersebut.
"Yahhhh.... Ga seru kayak waktu itu dong (yang samin teriak-teriak di Pizza Topi)" kata gue yang turut kecewa
Dan Nicole dan beberapa dari kami tetap diam meratap dengan suara hisapan meminum minuman di Starbucks tersebut. Sementara gue masih ada pulpy orange di dalam tas yang gue beli sebelum gue berangkat ke GI. Gue keluarin, gue minum -yang kemudian ketika gue ke starbucks lagi menunggu dijemput, gue baru tahu ternyata itu dilarang-.
Ga lama setelah kita tunggu di starbucks, beli eskrim, cari novel di Gramedia, waktu sudah berteriak bisu mengatakan bahwa kita sudah harus dan saatnya berada di blitz untuk menonton The Fault in Our Stars kami. Ketika di dalam blitz tiba-tiba Samin dari belakang lari dan datang tergopoh-gopoh,
"ASTAGA, GUE HAMPIR NANGIS TAU GAK!!" suaranya dengan penuh lirih dan ngos-ngosan
Kita semua senang dengan keberadaan Samin. Tapi bingung, kok tiba-tiba dia disini. Kemudian dia bercerita, katanya dia pikir ga jadi karena teman kami satunya gak ikut, dan dia pikir mungkin satu gak ikut, semua gak ikut. Dia pikir batal. Tapi ketika pada menanyakan keberadaan dia, dia baru sadar, kalau ini jadi.
"Mimpi apa lu min tiba-tiba begini?" tanya Ita kepada Samin.
"GUE KETIDURAN!! BANGUN-BANGUN SUDAH JAM 12!! YA, MANA GUE TAU JADI. PAS GUE BANGUN GUE LANGSUNG CEPET-CEPET KESINI. GUE KAN HARUS MASTIIN KE NYOKAP GUE DULU JADI APA GAK..." suaranya masih berat, mengatur nafasnya dalam-dalam.
"Yaudah Ya udah. Lu beli tiketnya dulu gih"
Tapi sayang, karena Samin telat, dia tidak bisa sebelahan dengan kami. karena yang disebelah kami semuanya sudah ludas terjual. Jadi, dia duduk di bawah kami.

Dan kali ini, ketika kita makan di Pizza Topi, Samin sudah gak teriak-teriakan lagi. Katanya dia lagi mau belajar untuk lebih bersifat dewasa, bukan anak-anak.
Jadi, gue harus sedih atau senang?
---

Review tadi deh, awalnya gue gak ada ide buat nulis. Tapi tiba-tiba bisa menulis segini banyak. Jadi pesan bagi gue untuk kalian yang gak niat nulis adalah: 'Paksain nulis saja. Nanti juga jari jemari akan berkompromi dengan otak dan akan mengalir seperti air sungai yang tenang dan pasti menghasilkan sebuah buah pena' LEL.

Kamis, 19 Juni 2014

Combronatic?

  Satu tahun di SMP telah dilalui, suka duka dijalanin bersama-sama di kelas kece bade ini, kelas 72. Dan sekarang gue lagi gak tahu mau mulai bercerita dimana, karena semua kejadian di kelas ini cukup banyak dan tentu gak mampu gue menuliskan semuanya secara rinci.

  Diawali dengan MOS yang gue datang telat, karena di kertasnya bilang jam segini, eh malah jam segono. Ok awal yang kurang baik sebenarnya. Tapi banyak pula yang telat seperti gue.
Diawali pula dengan teman-teman asing yang gue gak kenal, dan semua udah kayak alien, karena gue merasa asing. Kerinduan teman SD tentu masih membekas, dan kadang gue percaya, SMP ini gak bakal se-asik kelas enam waktu itu. Tapi ternyata pandangan tolol itu salah, mereka semua sama serunya.
   Minggu pertama belajar di bangku SMP tentu selalu diingat dan sulit terlupakan; saat itu semua guru menanyakan nama kita satu per satu (menyebalkan memang), ada yang menanyakan nama dan asal sekolah saja, ada yang menanyakan hobi juga, ada yang menanyakan pelajaran favorit dan yang kurang disukai, ada juga yang menanyakan sifatnya kayak gimana. Gue inget semua. Tapi mereka memperkenalkan diri hanya sekali, sial,, sedangkan kita harus berkali-kali.

Saat itu, guru yang dulu paling gue hafal namanya hanyalah dua, yaitu (gak usah nama samaran lah ya) Bu Windy dan Pak Miko. Karena saat Bu Windy memperkenalkan diri dia berkata;
"Ada yang masih ingat nama saya?" tanyanya
Suara beberapa anak-anak kelas 7 (atau juga OSISnya yang duduk di belakang) berteriak kecil hampir tak terdengar, "Bu Windy"
"Ya, nama saya sama seperti bahasa Inggrisnya Angin... Nama saya Bu Windy; saya mengajar Bahasa Indonesia dan Jurnalistik" lanjutnya.
Gue dengar dia berkata 'Bahasa Indonesia' spontan kaget. Gue kira guru tersebut mengajar bahasa mandarin (serius), karena gue kira disini ada Mandarin.
Dan gue mengingat nama 'Pak Miko' itu karena gue suka menonton Malam Minggu Miko karya Raditya Dika. Jadi, gue mudah menghafalnya; karena nama Miko itu tokoh utama di MMM itu. Kalau saja ada guru bernama Morganissa, gue pun juga bisa dengan mudah menghafalnya.

  Saat pertama belajar, banyak guru yang mengaku bahwa dirinya itu galak, tapi sebenarnya tidak. Terutama Pak PI,
"Saya itu dikenal dengan guru yang galak" katanya saat pertama kali mengajar.
Tapi setelah mengenal beliau selama hampir satu tahun, gue akan tertawa terbahak-bahak kalau dia bilang "Saya itu guru yang galak".
Walau pernah sekali sih beliau marah,
saat itu ketika kelas 9 sedang sibuk belajar untuk UN yang akan segera mereka hadapi, semua jadwal tetap kami diubah sementara. Dan sang guru yang satu ini, yang jadwal tetapnya selalu jam pertama; menjadi jam kelima, ketika matahari akan segera berada diatas kepala kita. Entah capai mengajar anak kelas 9, atau seperti vampir yang hidup ketika malam bulan purnama (ya kan ya?), tapi guru ini bedanya kalau matahari sudah berada di atas kepala kita langsung berubah jadi power ranger, dan sebenarnya saat itu sebetulnya (bagi gue seorang diri) gak berisik-berisik amat, tapi sekali lagi, mungkin beliau capai atau stress dengan UN yang harus kelas 9 hadapi, langsung kayak marah:
"KALIAN SUDAH SOMBONG YA??!" 
And we all be like: "...." Yap. ga berkutik sama sekali. Kemudian jangkrik berkumandang... Percaya deh, kalau guru yang katanya gak bisa marah tiba-tiba marah itu jadi serem banget; tiba-tiba petir menyambar kami semua di siang bolong; saat itu juga, setelah istirahat yang kedua ini, diberi ulangan mendadak. Maka, istirahat yang hanya 15 menit harus kita habiskan dengan belajar.
Kami semua langsung, wat jas hepening? Tapi bubur sudah menjadi nasi, ehhhh salah... beras sudah menjadi nasi, nasi sudah menjadi bubur, bubur sudah dimakan orang; apa boleh buat lah ya.

Dan kau tahu, itu trauma yang bersifat seminggu bagi kami. Lewat (jalan) gurunya saja, gak berani (emang agak aneh sih, tapi ini beneran). Kemudian pada saat pelajaran itu ada lagi, di hari dan jam yang sama; kami semua sudah saling sepakat untuk..
"BUAT SUASANA KAYAK KUBURAN! KUBURAN!!! HENING!"
ya gitulah.
Tapi, kau tahu kawan (oke, otak gue sudah tervirus gaya bahasanya Iwan Setiawan di 9sum10aut-nya), namanya guru, hal tersebut tak mereka pandang sebagai sesuatu yang tetap. Jadi, beliau tetap sama seperti biasanya..
ya gitulah... Trauma kami bersifat sangat sementara.

  Ada juga guru yang katanya guru yang galak, dan saat itu pula beliau mengajar pelajaran yang cukup susah.Jadi gue langsung "haduh" karena kalau saja nilai gue jelek, gue bisa mati.
Saat diperkenalkan walikelasnya masing-masing, kelas 71 mendapat guru olahraga; dan mereka tampak senang (dan gue kecewa gak bisa dapat walikelas guru OR). Dan 72 mendapat walikelas yang dikenal galak, dan kami langsung..
"Yahh..." teriak kecewa semua murid kelas 72 bersamaan.
 Gue sih ya udah aja lah ya, karena gue ketika SD sempat mendapat juga guru india yang sangat teramat galak kalau marah (walau aslinya beliau itu baik). Jadi saat itu gue hanya berpasrah saja. Dan ketika hampir setahun mengenalnya, lagi-lagi kita dibohongin untuk kesekian kalinya, hipotesis itu nol. Walikelas gue jauh dari apa yang gue bayangkan. Beliau sangat amat tidak galak bagi gue, beliau enak ngajarnya, baik dan mampu menyantuni 31 anak kelas 72, yang bagi gue itu merupakan sesuatu yang double u O double u WOW (oke, ini agak alay).

  Banyak guru di sekolah ini yang katanya dikenal galak, inilah itulah.. Tapi sebenarnya semua pernyataan itu butuh pembuktian, dan kalau pembuktian itu gak ada hasilnya, ya udah, pernyataan itu nol. Maka itulah pelajaran penting bagi kalian anak baru di sekolah baru, "Jangan percaya perkataan orang".

  Kadang, selain 'Jangan percaya perkataan orang' kita juga harus 'Ga mudah ditipu dari luar' seperti pepatah bilang, "Don't judge a book by it's cover". Karena awal gue mengenal mereka (teman-teman di kelas 72), banyak first impression (kesan pertama) yang ternyata beda alias salah besar. Kayak misal:
1. Ella: ini anak pasti pendiem (teryata anaknya eksis)
2. GEEz: ini anak kayaknya hiperaktif banget (dan fi -first impression- ini doang yang benar)
3. Imo: kayaknya anak biasa lah.. Rajin, ke sekolah pagi (Ngekss..)
4. Bete: ah anak biasa... (heh, belum tahu pas dapat nilai 100 terus. Otak bete itu, otak Einstein yang tertukar. Hanya saja, dia Einstein yang jago IPS)
5. UNICORN: Cantik, pasti banyak yang kenal alias eksis. (Ini juga bener sih..)

dari antara mereka para pemilik absen nomor 1 sampai 5 (iya, gue buatnya urut) yang paling parah bedanya itu Samin (ini udah nama samaran lah ya), perempuan yang kurus dan GILA. BANGET. Awal finya itu: 'ini anak mah pendiem banget. Ansos deh kayaknya' tapi setelah gak lama di SMP, fi itu sangat amat salahhh *netnotttt*. Dia itu gak ansos dan sangat amat berisik alias gila. Apalagi kegilaannya pas di Pizza Topi (well, gue sebenarnya gak boleh menggunakan sebuah produk; jadi gue plesetkan saja ya namanya), ultahnya Nemo:
Nyokapnya Nemo (NB: Nemo itu nama samaran. Bukan Nemo yang di film. Lagipula, nyokapnya Nemo yang di film 'kan udah mati): "Pada mau pesan apa?"
*Semua pada sibuk mesan*
Samin: "TANTEE! Aku mau balon!!! Bentuk anjing ya!!"  
Nyokapnya Nemo: hahaha.. kamu bisa aja..
Nyokapnya Nemo: Jadi udah ya? Itu saja? Tante tinggal dulu ya, tante mau ke kantor..
Samin: TANTEE!! Aku ikut dong ke kantor!
Nyokapnya Nemo: Boleh.. boleh.. bantuin tante kerja ya!
 *dilanjutkan tawa yang heboh*
Tapi gilanya dia gak bisa direm sampai situ saja...
*mas-mas PT memberikan pesanan kami ke meja*
Samin: MAS! AKU MAU BALON BENTUK ANJING!
Dan saat itu juga kita memutus apa yang samin ngomong, dengan segera menyuruhnya untuk diam. Karena kami tahu, permintaan gila itu gak akan terkabul. Tapi, tak ada yang mustahil bagi alam semesta, pernyataan kami salah berat! Gak lama, mas-mas itu beneran memberi balon; walau sayangnya, tak berbentuk anjing melainkan bentuk topi. Dan ga hanya satu saja, tapi juga semua mendapatkan balon berbentuk topi tersebut dengan warna yang berbeda-beda. Reaksi kita langsung kayak: 'ha?'
Tapi, karena Samin masih merasa kecewa dengan pemberian mas-mas itu, dia berdiri, mencari mbak-mbak atau mas-mas PT yang bersedia melayani dia..
Samin: "MBAK! MBAK!"
*lewat*
Samin: "Mas-mas!!"
*lewat*
Samin: "Mas!"
Mas-mas PT datang dengan gentlely dengan tampang yang siap membantu kapan saja.. "Ya, ada yang bisa saya bantu?"
Samin: "Mas, saya maunya balon anjing, bukan topi. Gimana sih?!"
Kemudian setelah mendengar permintaan 'kurang bermutu', mas-mas itu yang sebenarnya sedang sibuk dengan wajah kesal sekaligus harus bersifat sabar meninggalkan Samin begitu saja dengan senyuman terpaksa..
 Dan, seperti kata peribahasa, kemarau setahun dihapuskan hujan sehari; Samin gak dilayani lagi dengan pelayan-pelayan PT.
Jadi, karena kita memakan terlalu banyak pizza, sampai kenyang banget; si Samin dengan nasinya yang ga bisa dimasukin lagi ke perut, berdiri meminta pelayannya untuk membungkusnya.. Tapi, dari sekian banyak pelayan yang berlalulalang, gak ada satupun yang mau bantu Samin, sampai akhirnya Keterin membantunya.

Tapi ga hanya itu saja kegilaannya.............................

EH EH EH kok malah ceritain samin sih?! Entar topik bicaraannya Samin lagi .. HM. Okelah. Lanjutt~

  Ya jadi.. intinya begitulah.
"Dont Judge a Book By It's Cover"

  Inti dari segala inti cerita ini, 72 itu keren. (okedeh) Dan tentu 72 asik juga berkat guru-gurunya yang ikut serta mewarnai (*ciaaa)


  Oh iya, kalau kalian penasaran, apa arti Combro itu, gue akan ceritakan sejarah nama 'Combro' itu. Biar ngarti ente. P.S: Diperbolehkan untuk menulis kembali sejarah ini ke dalam novel atau buku IPS-Sejarah agar terkenang sepanjang masa dan tidak hilang dalam pusaran sejarah.


   Berawal dari sinar matahari yang terik... (*Wesss), cahayanya menusuk ke tulang putih kami dan memaksa kami 'tuk berolahraga, ya.. karena saat itu adalah pelajaran OLAHRAGA. Dikarenakan pelajaran olahraga yang pertama, kami diperbolehkan untuk bebas, boleh berolahraga apa saja.
Ada yang bermain bola, basket, dan gossip (isi gossip itu pernah gue curahkan di blog berjudul: 'Si Rohani')--Eh iya, gossip itu termasuk olahraga kan? Olahraga mulut yang sering terabaikan--, dan adapula yang hanya sekedar berjalan-jalan. Tak ada awan hitam, tak ada hujan, tak ada petir yang menyambar, karena cuaca disitu sangatlah panas; dan tentu tak ada jemuran yang basah, karena kami di sekolah, bukan di rumah.. si Imo tiba-tiba berteriak:
"COMBROOOO...!" dengan nada yang khas ('o'nya dibaca dengan nada melintang keatas), seolah ialah penjual combro. Diikutsertakan teriakan-teriakan murid-murid 72 yang lain yang mencoba menyamai suara si gendut lucu-disukain-sama-anak-anak-kelas-sembilan. Maka, semenjak itu, negara api menyerang banyak dari kita, keluarga 72 yang copy-paste irama suara khasnya Imo ini. Maka, terjadilah evolusi... Combro adalah motto (?) kami semua.
Maka secara teoritis, bapak combro kami adalah, Imo. Bukan Papi. Maafkan saya, para papilovers atau bioholic, karena membuat kamu kecewa. Terutama pada V.E yang sangat bioholic...

#Salam dua jari #SalamCombro (kadang terdengar juga #SalamJomblo)

Dan banyak banget kejadian-kejadian seru, yang terkadang terlalu banyak banget yang seru sehingga nyaris melupakannya... jadi, gue mungkin akan hanya menampilkan beberapa hasil karya masterpiece dari 72 aja dan foto kami semuaaa :)) .....


King of Zimba siapa ya? HAHA APS siapa??
Made by: anak 72! luf luf zimba! Apalagi unicorn! Kami suka unicorn! hestek unicorn.
:3 Mading kami! :3 
Ini kami, 72, walau kami berasal dari Jakarta, tetapi keluarga kami memeluk erat budaya Eropa.  Maaf, saya edit sedemikian rupa, karena tolong kamu iya kamuuuu jangan kepo deh ih (?)
----




Oh iya, betewe... GUE KELEWATAN ANNIVERSARY BLOG GUE SENDIRI! HAPPY ANNIVERSARY AND YOUR BORNDAY, MY BLOG, TERIMAKASIH SUDAH DUA TAHUN NEMENIN GUE SELALU. ILY <3 11 JUNI  :3 

Sabtu, 17 Mei 2014

Marmut Merah Jambu

  Belakangan ini Raditya Dika (iya, kakak gue #ngasal), mengeluarkan film terbarunya berjudul Marmut Merah Jambu atau sering disingkat dengan MMJ. Film yang keluar tanggal 8 Mei 2014 itu diminati banyak kalangan, dari bayi hingga orang mati (kayaknya gak gitu juga kali ya). Tentu, sebagai fans setianya gue pasti akan menonton film MMJ itu. Semakin hari semakin gue 'kebelet' pengen nonton itu apalagi ditambah katanya filmnya bagus, terutama dengan endingnya. Kicauan-kicuan itu selalu memenuhi timeline twitter gue. Sampai Aakhirnya Rabu sore, usai sekolah gue berencana menonton film MMJ ini bersama ketiga teman gue dan berencana bareng satu tamu diundang tapi tak berasa terundang *mindblowing*

  [Sebelum gue memulai review, gue mau cerita sedikit "perjuangan" nonton MMJ; bagi yang gak mau tahu, lewatin warna merah ini]

  Gue nonton di GI, Blitzmegaplex yang terletak di belakang sekolah gue. Orang yang diundang tapi merasa tak terundang (OYDTMTT) ini sudah diajak Nikol sejak kemarin hari, dan kita semua (OYDTMTT dan teman manusia lainnya) sudah janji jam 5 kurang ada di J.co Lobby GI. Soal beli tiket, orang yang pertama kali datanglah yang bertanggung jawab atas itu, dan kebetulan saat itu gue dan Nikol lah pendatang pertama daripada mereka. Segeralah kita ke lantai paling atas untuk membeli tket MMJ ini. Yang sudah pasti sih bertotal 4 orang, tapi yang ga pasti ada 1 orang, yaitu OYDTMTT. Karena takut entar rame, trus OYDTMTT jadi datang, dan tak mendapat tmpt duduk; gue dan  nikol pun  berencana untuk menelepon apakah dia jadi atau tidak. 
*pencet tulisan call di kontak OYDTMTT*
"Yah, ga nyambung..." kata Nikol ketika baru sadar ga bisa di telpon orang ini
"EH EH EH NYAMBUNG!!!!" teriak Nikol pas lihat layar hapenya untuk yang kedua kali
"HALO! OYDTMTT kamu mau nitip tiket ga??????!" kata nikol kepada handphone nya. {Gue ga ngerti sama Nikol, bukan salam dulu; tetapi langsung pada intinya, mungkin hemat pulsa}
"HAH???? GAK!!" jawab OYDTMTT dengan nada keras dan nada bingung.
 "Hah? Ga jadi?" jawab Nikol dengan nada dan wajah memelas yang lebih tepatnya kecewa. 
"YES BAGUS!!!! PHP!" bisik gue ke handphone. Gue sih rada seneng, karena gue gak mau ada kejadian awkward karena dia satu2nya cowo yang nanti akan nobar. Tapi juga rada kecewa, karena di-PHP in LOL HAHAHA.
"Ini siapa sih?" tanya OYDTMTT yang ternyata dari tadi gak tau itu kita. 
Kita gondok.  
 "Ini Nikol sama Maria, OYDTMTT"
"Oh.. Iya iya maaf, saya lagi di dokter; nanti aja. Takutnya ga jadi"
"Oh oke oke"
Akhirnya gue dan Nikol ke Jco. Di outdoornya gue ngeliat orang berkumpul gitu. Kayaknya lagi kerjasama ttg perusahaan. Dan gue ngerasa salah satu dari mereka itu merupakan editor profesional yang gue kenal. Kalo gak salah sih iya bener dia. Habis, mirip. Tapi kata Nikol sih bukan. (Editornya si Radit, Windy). Ga lama di Jco, mereka (dua manusia itu) datang ke bumi angkasa Jco ini. Kita pun segera ke lantai paling atas dan menonton film yang katanya seru itu.
tanpa OYDTMTT. 
---
Bagi gue tersendiri, film MMJ merupakan film terbaik dari film-film Radit lainnya. Menurut gue seorang diri, urutan film Raditya Dika menurut tingkat kesukaan gue terhadap filmnya, maka akan demikian:
1. Marmut Merah Jambu
2. Cinta Brontosaurus
3. Cinta Dalam Kardus
4. Kambing Jantan
5. Manusia Setengah Salmon

Ya, Marmut Merah Jambu mendapat peringkat terutama disini. Karena cinta, persahabatan, kepercayaan, kepopuleraritas semua terbungkus dalam film yang berdurasi 90 menit ini. Dimulai dari sifat sok tau nya Bertus dan Dika, yang menjadi dektektif gagal, diakhiri dengan cinta yang tulus tapi terpendam.

Bertus pemain favorit
Seperti banyak orang katakan, Bertuslah yang paling lucu dari segala tokoh. Sifatnya yang sok tahu dan ingin populer ini berujung pada sesuatu yang lucu. Apalagi, "Handphone" setrumnya yang selalu ia bawa hingga ia beranjak dewasa. Kebegoan si Bertus ini berujung lucu, dimulai dari kesetrumnya dia ketika mencoba setrumanya itu, yakin banget kalau bola basketnya ada di tong sampah yang sebenernya gak ada, pengen nyari pacar lewat telefon, pengen popular dengan cara 90'an, dan masih bejibun kebegoannya itu. Pemilihan pemain yang tepat untuk Radit, karena Julian Liberty (pemain Bertus) mampu mendalami kebegoannya Bertus. Atau mungkin emang Julian itu sebego Bertus? ITU MASIH MENJADI SEBUAH MISTERIII~

Ada teman gue bilang ke gue gini: "Bertus lucu banget. Saking lucunya, dia jadi seperti pemain utama di film tersebut".


  Selain itu, gue juga cukup suka dengan Dika kecilnya (Christopher Nelwan), selain ganteng dia juga mempunyai suara bagus (NILAI AKTINGNYA WOI, BUKAN SUARANYA). Tapi kadang bagi gue seorang diri, Christopher ini memainkan tokoh Dika tidak begitu se-semagat Julian yang bermain sebagai Bertus. Gue merasa Christopher ini bermain sebagai Dika dengan 'agak' takut-takut. Entah takut salah atau baru pertama kali bermain film komedi atau apa.. Meski demikian, tetap, Christopher mampu menjadi Dika SMA yang lucu dan dia tidak mengecewakan. Tapi satu hal yang bikin gue bingung, Christopher itu terlalu cakep untuk menjadi Dika SMA. Kok mau, gitu... Chris disamain sama kambing yang katanya jantan itu...

Tapi sih tak apa, bagus. Karena dalam suatu film harus memilih yang sesuatu fresh, yang bukan cuma pemain Radit yang selalu jelek mulu di film-film sebelumnya.
Gue suka gaya lo Dik!

Dan di film Marmut Merah Jambu ini, cast cewenya cantik-cantik dan lebih terkenal dari pada film-film sebelumnya. Bahkan, figuran saja merupakan artis yang sudah hampir dikenal masyarakat luas. Anca misalnya, yang menjadi security sekolah itu. Ia merupakan pemain figuran yang bermain hanya untuk beberapa detik saja.

Tapi nih gue kasih tau kepada artis figuran yang mungkin membaca ini(?) Lo ga usah sedih karena peran lo figuran. Lo harus sadar, sebenernya peran lo itu termasuk peran penting. Kenapa? Karena kalau gak ada pemain figuran, pasti film MMJ misalnya, gak akan menjadi sesempurna dan selucu itu. Jadi, berbahagialah kamu orang figuran.

Balik lagi ke cewe-cewe cantik di MMJ, gue gak ngerti kenapa Sonya yang sebagai Cindy itu mampu jatuh cinta kepada Dika kecil, kalau saja Dika kecil benar-benar Chris, itu merupakan hal yang wajar. Tapi kalo yang Dika gede nya... Gak kasian apa dengan Cewe itu? (yang kemudian Franda menggantikan Sonya sebagai Cindy Dewasa). Tapi namanya sih juga film. Cuma akting doang. Kasian Dika.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 Di film ini juga banyak pelajaran hidup yang gue dapatkan. Mulai dari yang tersurat maupun tersirat. ##Bagi Yang Belum Nonton, Jangan baca! SPOILER ALERT!##



1. Jangan menguasakan Ego daripada persahabatan. 
    Di film ini, Dika sempat menguasakan Egoisnya. Ia memanfaatkan tiga sekawannya hanya untuk mendapatkan Ina dari Michael. Quote yang paling gue suka di masa-masa ini adalah quotenya Bertus ketika di pelajaran sejarah.
Bu Guru Sejarah (dimainkan oleh Feby Febiola): "Ada yang tahu mengapa Soekarno dan Muh. Hatta berhasil menyatukan bangsa Indonesia?"
Bertus: Saya Bu!
Bu Guru: Ya! Bertus!
Bertus: "KARENA SALAH SATU DARI MEREKA TAK ADA YANG EGOIS! YANG MEMENTINGKAN DIRINYA SENDIRI! DAN KALAU SAJA DIANTARA MERKA ADA YANG EGOIS, DIANYA GA USAH NGINEP DI RUMAH TEMANNYA LAGI, BU! MERDEKA!!!!!!" #GueSukaGayaLoBer
Bu Guru: .... *wajah bingung*  
2. Apa yang terjadi hari ini, gak tentu menggambarkan masa depanmu
   Ini paling menonjol dalam film MMJ ini. Saat itu Michael yang terkenal banget di SMA nya, malah menjadi pelayan di akhir film itu. Ditambah, rambutnya yang wangi diawalnya malah akhirnya menjadi tak terawat dan gak jelas. Lain lagi dengan guru ORnya. Pak guru ini pernah berkata: "Kalau bukan siapa-siapa, mana bisa jadi apa-apa" ; dimana katanya dia gak mungkin lagi mendapatkan Bu guru Sejarah yang cantik dan mempesona, yang sudah lama ia jadikan gebetannya. Kecewanya dan kemustahilannya menjadi suami Bu Guru itu ditambah ketika Bu guru ini sudah memiliki Suami. Tapi, siapa yang sangka, di akhir film; mereka menjadi pasutri dan memiliki satu anak yang cantik. Ada lagi dengan Bertus, yang awalnya bego, dan diakhirnya siapa yang sangka kalau ternyata dia masih bego. Enggak bego sih, lebih tepatnya gila. Dan yang terakhir siapa sangka sahabat menjadi pacar? BUKAN BERTUS JADI PACAR DIKA LOH YA! SATU LAGI YANG ONO.

3. Kalau mimpi tinggi-tinggi, mungkin adakalanya kita harus dibangunkan oleh seseorang
    Quote ini sebenernya gue dapatkan bukan asli dari filmnya, tapi dari novelnya. Namun, di filmnya juga menggambarkan quote ini. Saat Dika jatuh cinta kepada Ina, sampai dia cium radio dan lain-lain. Dia mengejar Ina, dan terlihatnya kayak Dika sudah mendapatkan cinta Ina, padahal sebenarnya gak.
Dan sebenarnya ada orang yang lebih mencintai dia juga, tepat di depan matanya. Tapi mengapa Dika gak mau ke "dia"? Ya, karena mimpinya terlalu besar kepada Ina, makanya; seharusnya saat itu Dika dibangunkan dari mimpinya yang sangat tinggi itu. Tapi kenapa Dika dibangunkan pas diakhir? Mungkin biar film ini lebih berbobot.

4. Lebih baik dia bahagia, daripada bersama kita tak bahagia
   Ini quotes yang gue dapatkan secara tersirat (lagi). Quotes ini terkandung dalam pesta ulang tahun Ina. Ketika kedua sahabat Dika memaksakan Dika untuk berani berbicara yang sebenarnya kepada Ina, sampai diberi puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Joko. Tapi apa yang dikatakan Dika? "Ina, sebenarnya kamu itu cocok sama Michael. Meskipun lo itu gebetan gue, tapi kalian itu bahagia." (seinget gue itu) Dan dia tidak membacakan puisi itu. Dia malah memberi itu kepada Michael. Kedua sahabatnya yang bingung dibalas dengan satu kalimat dari Dika "Mungkin Michael yang lebih cocok membacakan puisi ini kepada Ina". Ini momen favorit gue selain Endingnya.


Intinya, film Marmut Merah Jambu ini film yang cocok untuk ditonton oleh seluruh kalangan masyarakat. Tapi ingat, jangan sendirian; percaya sama gue, kalau sendirian itu ga seru. Mending sama keluarga/pacar (kalau ada ya)/teman/sahabat. Selain itu kalau sendirian, entar diketawain sama mbak-mbak atau mas-mas bioskop.

akhir kata, Selamat menonton bagi kalian yang belum menonton!

Kamis, 01 Mei 2014

Dunia Terbalik

  Sorry kalau gue telat nge-blog. Yang dimana seharusnya gue menambahkan entri baru setiap bulan (yang biasanya hadir setiap akhir bulan), tapi gue kebablasan ga nulis hingga bulan Mei. Dikarenakan gue harus menyelesaikan tugas sekolah terlebih dahulu.
Sebenarnya sih gue nulis setiap bulan dan selalu akhir  bulan itu bukan sebuah rutinitas. Itu cuma terjadi ketika gue kangen nulis dan menjadi kebetulan, gue kangen nulis setiap akhir bulan. Tapi kali ini ga tau kenapa bulan April gue 'mager' banget nulis. Mungkin karena gue itu bukan orang pro dalam menulis cerita. Dalam artian, setiap gue ngeblog pasti gue harus menghabiskan 2-3 jam dalam hidup gue. 1 jam buat nulis dan sisanya buat edit. Emang gue itu lelet. Kalau kata orang, gue itu "Putri Solo"

  Mungkin juga, gue mager nulis karena gak ada kejadian yang keren atau yang paling beda. Tapi kemudian gue teringat dengan perkataan Benny (komikus) - "Ide itu ada disekeliling kita". Akhirnya guepun mengusahakan diri untuk menulis kejadian-kejadian yang ada di sekitar gue. . . . . . . .

  Lu masih kenal Matthew? (baca: Cinta dengan WC Les). Kalo lu belum kenal, gue akan kenalkan tentang dia singkat.
Dia adalah seorang anak Tkb yang dulu (ketika SD) les Mandarin bareng gue, dia merupakan anak yang, bisalah dibilang "agak"  gila dan anehnya minta ampun. Tapi pada akhirnya, pas gue keluar dari les itu (karena tempat les itu jauh, dan di SMP gak ada mandarin T^T) gue ngerasa kayaknya gue gak bakal ketemu anak kecil selucu, sehumoris dia. Tapi ternyata alam semesta berkata lain. Gue ketemu lagi orang yang kayak dia. Bahkan lebih parah. Panggil saja namanya "Briel", anak kelas 5 SD yang gilanya kayak anak TK. Meskipun dia memiliki sedemikian kekurangan, tapi kita kudu mesti harus liat sisi positifnya; "Karena lawakannya gue gak bakal jenuh dalam belajar Matematika atau Fisika ini". Dan benar aja, gue itu selalu ketawa kalau dia mulai acara lawaknya. Kalau kata guru les gue, dia (briel), kakaknya, dan satu lagi anak SMP kelas 3 (meskipun kelas 9, tapi sifatnya beti -bedatipis- sama Briel) merupakan anggota ILK alla kelas itu (ILK: Indonesia Lawak Klub). Nih salah satu kelucuannya Briel tuh ini:

(B: Briel; G: guru/ibu)

*gambar Jajargenjang*
B: Ibu, ini segitiga ya?
G: OH INI SEGITIGA..
B: Lah bener kan bu. Sesegitiga sama kaki.
G: OH SAMA KAKI. Ibu baru tau itu segitiga sama kaki.
B: Trus apa bu?
G: itu jajargenjang
B: OHH SAYA TAU BU! INI TRAPESIUM!
G: *face calm* haduh briel briel
B: Kalau bukan trapesium, ini jajargenjang ya bu?
G: KALAU IBU PUNYA 5 ANAK KAYAK KAMU BRIEL, IBU LANGSUNG MATI BERDIRI. Beneran!
B: Yah keren dong bu. Sa-sa-saya itu paling beda dari yang lain.

Bukan cuma itu...
B: ibu, ini gimana? (Soal aljabar; kira-kira soalnya demikian: 5=2x+1)
G: Ya satunya kedepan trus entar dibagi 2.
B: Loh kok dibagi dua?
G: Lah inikan ada 'x'
B: Ohh gitu. Saya pikir ini cuma iseng doang ditambahin 'x'
*gue lagi belajar fisika-pemuaian yang ada delta atau lambangnya berbentuk segitiga*
G: OH KALAU GITU Michelle (ya gue dipanggil Michelle) ada segitiga-segitiga itu cuma iseng doang...
B: Iya dong bu. Siapa tau orangnya bosen belajar  trus gambar-gambar gitu.
Oh iya, kok Ibu tau sih?? Trus saya ga tau??
Gue dalem hati ngomong: "Namanya juga guruuuu ya pasti tau lah -__-"

Lalu..
G: Kata mama kamu, kamu kemarin ke dokter karena kamu punya penyakit kantong kemih ya?
B: Iya bu, penyakit pada t*tit
G: *face calm*

(M: Murid Lain)
M: Ibu, dia (briel) itu kayak yang anak Tk itu ya bu.. cuman lebih liar.
B: Si anak TK itu udah lebih mending sama ibu loh. Dulu, pas baru pertama kali les disini dia ngerusakin hordeng ibu trus ini *nunjuk sesuatu ke arah dinding* digigitin sama dia trus roboh
*semua ketawa*
M: Haha kalau Briel mah liar terus bu.
G: Si anak Tk itu kalau dia mulai liar ibu ngomong: "Kalau bandel entar ibu telponin bapak bapak lapangan tennis loh" dia langsung diem. Sampe-sampe murid ibu yang gede-gede pada nanyain: "Emang ada apaan sih bu di lapangan tennis?" Ya itukan cuma boongan buat dia takut aja. Jadi setiap kali ibu ngomong gitu pasti dia langsung jerit-jerit: "AAAH ibu jangan buu EEE... Iya.. iya.. bu aku kerjain". Lah kalau si Briel, udah gak bisa dibohongin. Mau boongin apa coba..
B: Hehehe..

  Bagi gue sih wajar dia kayak gitu, namanya juga pelawak. Gilanya, setiap kali gurunya keluar bentar, pasti dia nari-nari ga jelas. Salah satu tariannya yang gue inget adalah: dia mengangkatkan tangan keatas, kayak orang main volly gitu dengan pantat yang bergoyang-goyang. Trus nyanyi-nyanyi lagu karya masterpiece dia. HAHA!!
Tapi meskipun dia menghibur, masih ada satu hal yang buat gue kasian sama dia, yaitu: kalo dia mendapatkan nilai ulangan yang bagus, orangtuanya dan guru les gue pasti ngerasa curiga sama dia. Jadi gini, waktu itu pernah nilai matematika dia 85 (kalo ga salah), nyokapnya telpon guru les gue; intinya orangtuanya Briel ga percaya anaknya bisa dapet nilai bagus, makanya dia disuruh tes ulang di les untuk memastikan kebenarannya. Semua pada kira dia nyontek atau apalah. Tapi pas di tes dia selalu ngomong: "Saya sudah lupa caranya buuu". Gue sendiri sih wajar-in dia kalau udah selesai ulangan, dia lupa materinya. Tapi mereka curiga juga menjadi hal yang wajar, karena nilai ulangan dia 85, sedangkan UTS dia bisa dapet nilai 4. Kan MAGIC banget tuh. Tapi seharusnya sih pada ga curiga, karena "Tak Ada Hal Yang Mustahil".
Hal ini sama halnya dengan temen sekelas gue. Panggil aja Ciosa. Di ulangan Inggris yang total 20 nomor silam, banyak dari anak-anak pintar yang biasanya dapet 100  (Spt: Waketos,Iza, NICOLE MADELINE, Io) malah kali ini mendapat nilai 9 (bener 19, salah 1) karena mereka kurang teliti. Tapi Ciosa yang biasanya ga dapat 100, kali ini mendapatkan nilai sempurna itu! Banyak orang mengatakan: "Kalau dia mendapat nilai 100, berarti dunia terbalik" Berarti, kali ini dia bener-bener membuat dunia terbalik. Ini juga berarti dia telah mengalahkan anak-anak pintar seperti yang gue katakan tadi. Pas Io tau Ciosa mendapat nilai 100, dia langsung ngomong:
"Dunia terbalik sudah." 
Tapi kan tak ada yang tak munngkin. Mungkin saja dunia Io sudah terbalik, tapikan dunia u.n.i.c.o.r.n belum terbalik NGENGGG. Tapi mungkin teori "Dunia Terbalik" disetiap pribadi orang beda-beda. Bagi kakak kelas, Cibry, "Dunia terbalik itu kalau si W.a mau ngerjain tu agenda(agenda sekolah; PS: Sie. Medkom yang membuatnya) dan W.a jadi rajin." Bagi seorang Nicole Madeline, dunia terbalik kalau BL (kakak kelas;orangyangdisukainnya) punya suara bapak-bapak. Dan bagi temen gue, V.E, dunia itu ga bakal terbalik karena bumi itu bulat *tepok tangan* 

  Tapi sih bagi gue kayaknya dunia sudah terbalik, karena koko gue yang gak suka baca novel tiba-tiba baca novel "My Creepy Diary" sampai tamat. Padahal, setau gue, koko gue itu paling eneg sama namanya penuh tulisan tanpa gambar. Bisa jadi dia mulai penasaran dengan novel karena gue memiliki tiga-puluh novel (yang pasti gue akan membeli hingga ribuan novel), dan setiap kali koko gue masuk ke kamar gue; gue pasti lagi membaca novel. 

Dunia sudah terbalik. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . .. . . . . . .

Sabtu, 29 Maret 2014

Rekomendasi Buku

Kemarin gue mengalami penekanan yang amat sangat, mulai dari nilai UTS yang tak karuan hingga tata krama (lho?). Ah gitu deh. Gue pun mencari kesenangan atau hal yang menghilanglan stress (?) dengan pergi ke toko buku Gramedia Pusat, Matraman (Tk. buku ini tempat favorit gue sejak SD). Awalnya, gue berencana ingin membeli buku The Fault in Our Stars karya John Green. Emg sih sudah lama keluar, ya sekitar akhir thn 2012 lah. Tapi buku itu larisnya tanpa ampun.

"Kak, buku The Fault in Our Stars dimana ya?" Tanya gue sopan kepada mbak-mbak gramedia

"Oh itu stoknya kosong.."

Belum sempat gue menanyakan yang versi inggrisnya, dia udah menjawab pertanyaan gue.
"Versi Inggrisnya juga kosong dek" kata mbak itu yang sepertinya membaca mimik gue.

"Oh ya, makasih." Balas gue mengakhiri percakapan itu dengan rasa penuh kekecewaan.

Huft. Ga ada gaiz. Kalau begitu, ya sudah gue beli novel rekomendasi guru Bahasa gue, Pak PI --yaitu "9 Summers 10 auntunm". Guepun mulai mencari.
Ketika gue menyerah mencari, guepun kembali menanyakan keberadan buku itu. Tak beda jawabannya ketika gue mencari novel The Fault in Our Stars; "Stok Kosong". Wat -_-". But fine, gue masih bisa mencari novel-novel best seller lainnya untuk menjadi bahan bacaan gue disaat yang menekan ini. Temulah gue dengan barisan buku karya Andrea Hirata dan A. Fuadi. Meskipun gue tahu belakang gue kumpulan novel sejarah seperti: "Gadjah Mada" "Ken Arok (mulai kekuasaan hingga pencintaan)" "Maja Pahit", dll.. tapi gue lagi gak mau berhubungan apapun itu dengan sejarah--nah penekanan ini terletak pada pel sejarah ini (Mulai dari nilai hingga tata krama (lho apaan itu). Namanya juga anak yang susah move on. Haha. Dan walau gue dari tadi melewati kumpulan novel lumayan best seller, namun genrenya tuh yang gue gak suka. Seperti "Oppa & I", "Sm salah gaul", "Cinta."  dan novel remaja yang selalu saja tak pernah haus dengan namanya 'Cinta'. Jujur, itu bukan novel yang gue suka; meskipun sih yaaa The Fault in Our Stars juga termasuk novel bergenre Remaja.
Ok, mari kita bedakam novel Indonesia dengan novel karya negeri seberang. Novel Indonesia apapun itu yang bergenre cinta, kadang menjadi sesuatu yang biasa. Bagi gue, gak ada sesuatu yang "wow" dalam novel-novel itu. Begini nih novel remaja di Indonesia: strangers-jatuh cinta pada pandangan yang pertama-bertepuk sebelah tangan- sedih- dll. Ga ada sesuatu yang wow. Biasa aja bagi gue.

  Lain cerita dengan novel bergenre remaja karya negeri sebrang. Mereka menggarami cerita mereka dengan sesuatu perjalanan/travelling/masalah cinta. Meskipun di beberapa novel Indonesia ada sih sesuatu yang begitu, tetapi bumbunya tak semantap negeri seberang.

Ok balik ke yang tadi. Sampai mana tadi?

  Gue pun akhirnya membeli novel Andrea Hirata-- Edensor (tanpa gue sadari, 2007 silam; Bokap gue sempet beli ini juga. Bedanya hanya novel ini sudah direvisi ulang) dan Negeri 5 Menara karya A. Faudi. Jujur, gue hanya membaca 1 bab saja, gue langsung mengkritik novel-novel itu. Kadang bila gue mengkritik novel itu negatif, itu bertanda buruk karena gue gak akan baca itu sampai habis atau bahkan gak disentuh. Gue mengkritik positif pada Edensor, karena ia menceritakan sesuai apa kadarnya, tak terlalu detail. Jadi, imajinasi kita terbayang dengan versinya masing-masing. Beda dengan Negeri 5 Menara. Bagi banyak orang, novel tersebut cukup asik bila dibaca. Memang asik, karena kisah petualang.  Namun, bagi gue ia (A. Faudi) menceritakan terlalu detail. Kadang banyak kisah-kisah yang gue gak bisa meng sketsa kan itu. Walau ada yang berkomentar novel ini menceritakan detail -- tidak terlalu detail-- sehingga terlihat sangat hidup. Tapi gak bagi gue. Ini terlalu detail. Gue jadi bosan membacanya --karena gue gak ngerasa gue ada dalam cerita.

Lalu novel-novel apa yang bagus?
  Gue menilai novel bagus atau tidaknya bila gue bisa masuk ke dalam cerita itu dan merasakannya. Gue gak butuh sesuatu yang detail. Tapi gue butuh diksi yang tepat, sehingga asik dibaca.

Bagaimana dengan Raditya Dika?
  Bagi banyak orang Raditya Dika hanya menuangkan kisah nyatanya ke dalam layar yang kemudian di jadikan dalam buku. Namun, entah mengapa, ketika gue baca buku Raditya Dika selalu gue ngerasa ada Radit di hidup gue --ini bertanda gue bisa merasakan dan masuk dalam ceritanya yang absurd itu. 

  Selain gue menyukai karya-karya Radit, gue juga menyukai Andrea Hirata. Jiwa petualang yang dikisahkannya dapat digambarkan dan kita (kalau imajinasi bekerja) akan membacanya seolah sedang menonton film. Hal yang gue suka dari Andrea Hirata adalah meskipun itu novel yang berisi pesan moral atau apalah, ia dapat membumbui rasa humor. Kadang gue ketawa sendiri membaca sifat tengil sang tokoh yang diceritakan Andrea ini.

  Selain mereka, gue juga suka penulis muda yang satu ini. Penulis ini memang tak terlalu terkenal, namun tak berarti novelnya tak masuk 10 Top Books. Yup, ialah Agnes Davonar, dengan novel ternamanya "Surat Kecil untuk Tuhan" yang mungkin pernah kalian dengar. Memang sih, SkuT (Surat Kecil untuk Tuhan) ini ia tulis karena keinginan si bapak sang tokoh di novel itu (Keke) yanv bertujuan untuk mengabadikan sang anak yang meninggal akibat leukimia. Namun, kalian harus liat novel-novel fiksinya. Dari sekian novel fiksinya (My Idiot Bro, Kematian Gabby dan Lagunya Jauh, F. R. I. E. N. D. S , Bidadari Terakhir,dan masih banyak lagi) gue paling suka dengan Bidadari Terakhir. Novel yang berkisah tentang seoeang Kupu-kupu Malam (PSK) yang bertemu dengan seorang perjaka, yang kemudian perjaka itulah akan mengubah nasibnya dari kupu-kupu malam itu. Sungguh menggores hati.

  Lain lagi dengan penulis novel horor, Ayumi Chintiami. Anak indigo inilah yang membuat novel "My Creepy Diary" mampu mengikat banyak hati pembaca, sehingga mereka tidak dapat lepas dari buku itu. Kisahnya memukau dan sungguh istimewa. Namun, kadang kesedihan menerpa, novel itu sering dikelompokan "novel fiksi" oleh toko buku yang menjualnya. Padahal kisahnya non-fiksi.
Gue suka dengan novel ini, karena gaya penulisannya atau diksinya mirip kayak gue. Hahaha...

  Oiya btw, di entri ini, gue mengkritik semua penulis favorit gue. Namun sayangnya kurang John Green. Walau gue belum sempat membaca novel John Green ini, gue bisa dengan mudah menyukainya ketika menonton trailer filmnya yang akan tayang 6 Juni mendatang. Film "The Fault in Our Stars". Doakan saja, gue bisa secepatnya beli novel itu, jadi gue bisa mengkritik John Green secepatnya. :3

Senin, 24 Februari 2014

WOOHO

  Hai Haii!!!!  Gue balik lagi dengan keadaan yang lesuh nan capek, karena habis pulang dari Kaderisasi (sejenis LDK). Kangen gak? Kangen gak? Pasti kangen. Oiya, sebelum gue mulai, sorry ya gue gak nulis blog lagi, karena blog gue entah kenapa bisa jadi shortcut ke website lain (kayaknya sih itu iklan). Awalnya, gue pikir itu ke shortcut karena gue ganti template menjadi template yang lebih kece (ga ada hubnya sih). Yaitu templete bernuansa Paris. Kece badai waktu itu. Eh bencana tak berhenti menyerang, lagi asik-asiknya melihat-lihat template itu,  tiba-tiba saja langsung ke website yang lain, dan akhirnya gue tau kalau pacar gue ini udah gak bisa dibaca lagi. Pas gue tahu itu, langsung gue pusing. Rasanya kalau kehilangan pacar itu frustasi (iya, pacar gue itu blog. I'm born to be a writer).
Kalau lo ga pernah ngerasain sakitnya kehilangan belahan jiwa itu atau kata lain kalo lo itu jones, rasa kehilangan belahan jiwa (baca: blog) serasa kayak lo ga punya tangan (oke, ini terlalu parabol). Gue butuh waktu 2 jam untuk rela meninggalkan blog yang sudah gue ukir selama 3 tahun lebih. Gue juga dulu pernah pikir blog ini merupakan blog terakhir yang gue buat. Karena dulu pernah buat blog ketika kelas 3, namun sudah tidak di tulis lagi. Jadi udah deh, lupa password. Lalu, ketika kangen ingin membuat blog, gue buat lagi dan lagi. Jadi, gue begitu terpukul ketika tahu ini ada ads (iklan) yang menghalangi cinta gue ini bersama dia (baca: blog; gue anak -salam jomblo-, pacar gue hanya blog). Tapi sekarang gue jadi kecewa banget, blogspot sekarang sudah penuh dengan iklan, padahal gue gak pernah tuh nyediain tempat buat iklan. Kan serem kalau tiba-tiba iklannya 'memperbesar alat vital'. Tapi untunglah, ads ads ngeselin yang ada itu cuma game-game biasa dan ga jelas.
 
  Walau gue kecewa dengan blogspot, gue cukup bangga karena akhirnya beberapa anak muda Indonesia mulai nge-blog. Karena setau gue dulu itu, yang namanya blogging itu sudah kuno atau sudah jarang dipakai oleh mereka kaum-kaum alay yang tak bisa berbahasa Indonesia. Setau gue juga mereka semua udah migrasi ke facebook, twitter, instagram, dll. Yang biasa status hariannya itu "hUjj@n @s0R3Har!" atau gak "p1pPPPuuuuPPPPP" atau palingan anak alay yang lagi jatuh cinta, namun pura-pura lagi suka lagunya saja, kayak contoh: "d3MMM1 C!nT@- krisPATIH". Ternyata pandangan itu salah. Anak kelas 7 SMP sekolah gue mulai banyak yang  tertarik untuk membuat blog. (YOI INSPIRASI MEREKA DARISIAPA DULU DUNKZ, #geer, #inigaAlay) Yehey. Namun buruknya, blog jadi sudah mainstream di sekolah gue. Anak kelas 7 semakin hari semakin banyak buat blog, dan meskipun gue bukan anak 7-4 yang slogan mereka 'anti Mainstream', tapi gue termasuk diantara mereka yang ga mainstream.

  Jadi, contohnya yang gak mainstream itu: kalau mereka nulis diary dengan kata awalan "DEAR DIARY", gue buat dan nulis di blog; lalu kalau mereka buat blog, gue buat buku atau novel karya gue sendiri HAHAHHAHA. Siapa tahu, entar malah anak-anak kelas 7 lainnya juga ikutin buat novel dan mereka semua menjadi penulis. Haha.. ingat kata K!ck Maria: "Bercita-citalah setinggi langit-langit kamar. Dimana, kalian masih bisa meraih cita-cita itu." hestek ea.

  Aku sih seneng #AkusihCuek# kalau semakin banyak anak yang terlahir dengan bakat penulis, dan dilahirkan untuk menulis. Modah-modahan saja gak kayak gue yang sudah berniat buat novel tapi ga jadi-jadi karena gue belum selesai membuat draft. Pernah buat. Terakhir kali tanggal 30 Des 2013. Dan hanya tertulis 4 lembar. Alasan gue gak lanjut nulis hanya karena: Gue sibuk dengan organisasi. Mana juga gue kepilih buat jadi ketua koordinator koor anak-anak lingkungan St. lukas. Apabanget -___-